Jakarta - Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir 2025 menjadi pengingat bahwa upaya pengurangan risiko bencana membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Tidak hanya berfokus pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi juga memperkuat pencegahan melalui pengelolaan lingkungan, pemanfaatan ilmu pengetahuan, dan pelestarian kearifan lokal.
Semangat tersebut menjadi tema utama dalam Webinar Internasional bertajuk Pembelajaran Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Aceh: Strategi Mitigasi Berbasis Pengelolaan Lingkungan Global dan Kearifan Lokal yang diselenggarakan oleh Indonesian Diaspora Network (IDN) Global, Diaspora Global Aceh (DGA), Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Jakarta, dan Ikatan Alumni Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (ILUNI SIL UI).
President IDN Global, Nathalia Widjaja, menilai diaspora Indonesia memiliki peran penting dalam menjembatani pengalaman internasional dengan kebutuhan pembangunan nasional, khususnya menghadapi tantangan perubahan iklim dan meningkatnya bencana hidrometeorologi.
"Diaspora tidak hanya dapat berkontribusi melalui jejaring internasional, tetapi juga melalui transfer ilmu pengetahuan, teknologi, pengalaman profesional, dan praktik-praktik terbaik yang diperoleh dari berbagai negara," kata Nathalia dalam keterangan pers dikutip, Kamis, 2 Juli 2026.
Nathalia menjelaskan kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah, serta Pemerintah Kota Subulussalam.
Webinar tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian menuju Focus Group Discussion (FGD) Ketahanan Pangan, Energi, dan Air yang akan diselenggarakan ILUNI SIL UI bersama IDN Global pada 28 Juli 2026.
Ketua ILUNI Sekolah Ilmu Lingkungan UI, Andre Noto Hamijoyo, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana harus menjadi momentum memperkuat kapasitas masyarakat dan tata kelola lingkungan, bukan sekadar membangun kembali infrastruktur yang rusak.
Menurutnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, organisasi profesi, masyarakat, dan diaspora menjadi fondasi penting dalam menciptakan solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko bencana.
Diskusi yang dipandu Fachruddin Tukuboya mengajak peserta melihat bencana dari perspektif yang lebih komprehensif. Ia menjelaskan bahwa banjir dan tanah longsor merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari perubahan tata guna lahan, degradasi kawasan hutan, hingga berkurangnya keseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan.
Karena itu, strategi mitigasi dinilai perlu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Sebagai pembicara utama, Ketua Umum DPP Diaspora Global Aceh, Mustafa Abubakar, mengajak seluruh pemangku kepentingan membangun paradigma baru dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan Aceh.
Ia menilai kekayaan sumber daya alam Aceh harus dikelola secara bertanggung jawab melalui penguatan tata kelola lingkungan, penegakan hukum, serta pelibatan masyarakat dan lembaga adat. Diaspora Aceh, menurutnya, siap menjadi mitra strategis pemerintah melalui pengembangan riset, jejaring internasional, dan transfer pengetahuan.
Dapatkan informasi lain seputar BCM.